2 (dua)
Kepada Jamaah JATAYU,
Belum saatnyakah..... hati tunduk berada dalam DZIKIR Kehadiran Keberadaan Dia Dzat ALGhaybullah.
Miliki perilaku SYUKUR, yakni terbuka lapang dada, nyegoro, rasional dan nalar (akal pikiran yang terhubung dengan hati nurani yang telah berfungsi, berfungsinya hati nurani karena telah mengenali Keberadaa Diri Dzat AlGhaybullah Yang Allah NamaNya dari yang hak, sah serta wenang).
Dan jangan menjadi orang-orang yang KAFIR, yakni mereka yang tertutup, akibat fanatik, kaku, beku, merasa cukup dengan pengetahuan, wawasan dan pengetahuan yang lahir. Tertutup dan terkubur oleh ego nafsunya, ego keturunan, ego kesukuan, ego kepandaian, ego wawasan, ego jabatan, ego kekayaan, ego kehebatan.
Dan jangan menjadi orang-orang yang FASIQ, yakni mereka yang merasa diri “paling” benar dalam hal apapun, demikian pula dalam hal keyakinan. Berbangga-bangga dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, berbangga-bangga karena keturunan, jabatan, kekayaan, dst, dsb. Orang fasik tidak pernah membuka kemungkinan bahwa sesungguhnya dirinyalah atau golongannyalah yang salah.
Dan jangan menjadi golongan orang-orang yang MUNAFIK, yakni meraka yang telah terikat dalam ikatan, fakta rasa, “saya bersaksi”, namun tidak bisa menjaga amanah, merusak kesatuan, kebersamaan dan kekeluargaan, tidak memiliki kesungguhan dan komitmen, serta konsistensi. Orang yang lupa dan tidak ada kehadiran di dalam rasa hati nuraninya atas Keberadaan Diri Tuhan, maka akan Allah jadikan menjadi orang-orang yang lupa kepada dirinya sendiri. Orang munafik adalah orang-orang yang fasik.
Serta jangan menjadi orang-orang yang musyrik, mereka yang tujuan aktivitas orientasi berdunianya dalam kendali material - kebendaan duniawi. Kehormatan, kemuliaan, keagungan selalu dihubungkan dengan materi dunia.
Yang seharusnya memunjer kepada Keberadaan Dia AlGhaybullah yang di dalam rasa hati nurani. Sehingga dalam berkesadaran sebagai hamba Allah.
Menjadi manusia yang berani jujur, tulus dan ikhlas. Jujur memang berat. Menerima kekurangan diri dan kelebihan orang lain serta berani menerima ketetapan anugerah yang diterima orang lain, apalagi menerima keberadaan ketetapan subyek kebenaran, dalam sejarahnya berat. Dalam sejarahnya bergolak dan bergejolak.
Konsisten, tekun dan bersungguh-sungguh, mengendalikan diri dan sabar serta tawakkal adalah bentuk dan wujud berjihadunnafsi yakni memerangi nafsunya hingga patuh dan tunduk dijadikan kendaraannya hati nurani ruh dan rasa menyatakan selamat kembali kepada Tuhannya.
Mengendalikan diri dari ketercengkeraman dan dari keterjajahan hawa nafsunya. Sabar, mau memaksa jiwa raganya. Dan Tawakkal, beraktivitas pemberdayaan dan berbudidaya pada keberserahan diri dalam kesadaran syafaat berberan berkah sawab pangestu Guru Wasithah.
Komunikatif dan musyawarahan. Komunikatif tidak sekadar berbicara, namun lebih dari itu adalah informatif, rasional, nalar, lapang dada, pendengar, penyimak, pemerhati yang baik. Musyawarah, untuk saling berpendapat, berbagi, saling menyelami, saling memberikan ide dan gagasan, saling membantu saling mensupport / mendukung. Masuk akal, berhubungan dan hormat bagi semua.
Dhawuh aguru-guru
DOC. MAKALAH KALENDER 2022 M